Membeli Gadget = Membeli Sampah!

shares |

Membeli Gadget sama dengan membeli sampah. Enak aja, nanti dulu.

Dialog diatas terjadi antara dua sahabat saya tentang dunia gadget. Karena saat ini sedang digelar ajang pameran Komputer atau Indonesia Computer Show (ICS) atau Festival Komputer Indonesia (FKI). Tentu saja di ajang tersebut para vendor jor-joran mengeluarkan berbagai produk baru, termasuk jenis-jenis gadget high-end. Tentu saja banyak pengagum gadget menantikan ajang tersebut.

Termasuk diantara orang yang menungu-nunggu ajang tersebut adalah Bang Rasyid, sebut saja namanya begitu. Sebagai seorang pegawai swasta yang sukses, tentu dia membutuhkan jenis gadget yang canggih guna mendukung pekerjaannya. Dia membutuhkan itu selain menjajal dan mencoba produk-produk baru di kelasnya, juga sebagai penyaluran hobinya dalam bidang TI. Cuma, memang dia mengakui bahwa kantongnya sering jebol karena hobinya itu, khususnya gonta-ganti gadget keluaran terbaru. Dia mengakui kadang-kadang budget yang lain juga kena imbasnya.


Lain lagi denga Bang Rudi. Dia memang lebih kalem. Penampilannya biasa-biasa saja walau duitnya juga banyak. Maklum dia memang orang kaya dan banyak duit. Namun, soal gadget ini dia punya prinsip, yang penting gadget itu bisa memenuhi kebutuhannya yaitu menelpon, mengirim SMS dan yang terpenting bisa membaca Al-Qur’an. Maklum dia, memang rutin membaca Al-Qur’an karena targetnya setiap bulan mengkhatamkan bacaan firman Allah tersebut. Selama gadget tadi memenuhi kebutuhannya, dia ‘siap’ dibilang jadul atau kuno atau apa saja terserah. Yang penting sudah mencukupi. Makanya dia tidak perlu gonta-ganti gadget dengan produk baru.

Menurut pengamat marketing, bahwa mentalitas kebanyakan orang Indonesia itu ‘gengsi tinggi’. ‘Biar miskin yang penting gengsi’, istilah orang Jakarta. Sehingga penampilan harus keren, gadget harus yang kelas high-end, mahal dan branded, begitu juga aksesors yang lain. Padahal dapurnya sering kosong alias gak tercukupi kebutuhan pokok keluarga. ‘Gengsi gede’ ini yang merupakan makanan empuk bagi berbagai vendor produk-produk canggih menjadikan Indonesia sebagai sasaran produk mereka. Tentu saja melihat jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar, maka impian keuntungan besar pun menjadi menggoda.

Betapa banyak anak-anak ABG yang gadgetnya bermerek, mahal dan gaya. Padahal hanya untuk sms-an dan main game, yang sebenarnya tidak perlu-perlu amat harus yang mahal. Dan banyak lagi fenomena sejenisnya.

Orang-orang Indonesia seperti Bang Rasyid tadi memang banyak sekali (hedonis) sehingga bekas-bekas gadget lamapun akhirnya dilego begitu saja atau dijual dengan banting harga, yang akhir-akhirnya pun menjadi sampah. Begitu kata Bang Rudi yang berseberangan pandangannya dengan Bang Rasyid.

Jadi, bijaklah dalam membeli barang. ‘Belilah sesuai dengan kebutuhan, bukan membeli sesuai dengan keinginan’. Karena keinginan biasanya bablas dan tidak ada batasnya. Baru ada batasnya kalau udah ngdep ngalor, kata orang Betawi, alias mati.

Salam damai,

Related Posts