Waralaba : Mencicipi laba bisnis Nasi Uduk Kebon Kacang

shares |

Waralaba : Mencicipi laba bisnis Nasi Uduk Kebon Kacang - Pecinta kuliner di Jakarta pasti tak asing dengan Nasi Uduk Kebon Kacang (NUKK). Usaha nasi uduk ini populer lantaran jaringan gerainya lumayan menjamur. Total ada 12 gerai yang tersebar di sejumlah wilayah di Jakarta, dan sebentar lagi akan buka di Bali.

Usaha nasi uduk milik keluarga Agung Maulana ini sudah berdiri sejak 2007. "Berawal dari kemampuan ibu membuat nasi uduk dan sambal istimewa," kata Agung. Selain nasi uduk dan sambalnya, NUKK juga terkenal dengan olahan ayam jantan goreng. Menu ini berhasil menjadi primadona bersama dengan nasi uduk racikan sang bunda.


Lantaran animo pasar cukup tinggi, Agung dan keluarga terus melebarkan usaha dengan menambah jumlah gerainya. Bahkan, sejak awal tahun 2013 ini, ia resmi menawarkan waralaba. "Kami sudah berbentuk franchise, dulu sempat menawarkan kemitraan tapi sudah tidak lagi," ujarnya.

Advertising fee

Dalam kerjasama waralaba, NUKK mematok biaya investasi mulai Rp 480 juta hingga Rp 600 juta. Investasi ini sudah termasuk perlengkapan, dekorasi, komputer, bahan baku, pelatihan, sertifikasi, peralatan kantor, dan bimbingan usaha.

 
Masa bimbingan usaha dilakukan selama 1 tahun dengan supporting general 5 tahun. "Selain itu, ada royalty fee 7,5 % dan advertising fee 1,5%," tutur Agung.

Untuk advertising fee ini, Agung mengaku menerapkan konsep rekening bersama agar uang yang dikelola transparan dan benar-benar dipakai biaya iklan untuk kepentingan usaha bersama.

Mitra yang bergabung ditargetkan mengantongi omzet hingga Rp 250 juta per bulan. Dengan omzet itu, mitra bisa balik modal setahun. "Tapi saya tidak bisa menjamin karena ada unsur lokasi, daya beli, dan segmentasi," ujarnya.

Konsultan waralaba, Khoerussalim Ikhsan menilai, branding NUKK memang cukup kuat di pasar. Namun, tetap ada beberapa faktor penting yang harus diwaspadai terwaralaba. Pertama, potensi pasar. Menurutnya, nasi uduk merupakan makanan khas Betawi yang tak semua orang menyukainya. "Kalau di Jakarta banyak yang suka. Tapi kalau di Yogyakarta, belum tentu bisa selaku di Jakarta," ujarnya.

Kedua, inovasi menu. Dalam bisnis kuliner perlu inovasi menu berkelanjutan supaya konsumen tak bosan. "NUKK harus punya divisi riset dan pengembangan untuk mengatasi dua masalah tadi," katanya.

Related Posts