Srikandi Café : Hmmm…Nikmatnya Berbisnis Kedai Kopi

shares |

Srikandi Café : Hmmm…Nikmatnya Berbisnis Kedai Kopi - Di saat banyak gerai kopi berlomba-lomba menghadirkan bahan baku kopi impor, Nanny Soeharto berani tampil beda dengan menghadirkan kopi asli daerah.

Ada lima jenis kopi yang digunakan yaitu kopi Arabika Kalimantan, kopi Mandailing Sumatera, kopi Wamena Papua, kopi Toraja dan kopi Luwak.

Meski bersumber dari bahan baku lokal, Nanny sukses menyajikan kopi daerah berbagai varian dengan cita rasa yang tak kalah dibandingkan kopi impor.

Sebut saja Black Coffee, Cappuccino, Espresso, Black Coffee with Milk, Dark Chocolate Coffee, Caffelate, Mocha Late, Hazelnut Late dan Greentea Late.

Harga yang dipatok untuk semua menu mulai dari Rp9.000 – Rp18.000 per gelas.


Nanny Soeharto mengaku sejak lama telah jatuh cinta pada kopi. Saking gemarnya, Nanny bertekad memiliki gerai kopi sendiri. Sayangnya, Nanny tak memiliki kemampuan untuk meracik kopi dengan cita rasa yang layak dijual.

“Saat itu cuma gemar saja meminum kopi dan pas ada niat mau buka bisnis kopi, eh bingung gimana cara buatnya,” ujar Nanny.

Tak ingin niatnya mentok hanya gara-gara tak sanggup meracik kopi, Nanny mengikuti kursus kilat tentang kopi dan bagaimana cara membuat kopi di Universitas del Caffe, Roxy, Jakarta Barat.

Setelah pelatihan itu, Nanny belajar sendiri selama 2 minggu untuk dapat meracik menu Hot and Cold Drinks Coffee.

“Waktu pertama kali buat, gagal sudah pasti. Pas berhasil, rasanya senang banget,” tuturnya.

Hasil racikannya itu lantas diberikan kepada keluarga dan teman-teman terdekatnya. Semula, ada kekhawatiran dalam dirinya, hasil racikan tidak seenak kopi-kopi dari kedai kopi ternama. Dugaan itu meleset.

Respons positif yang berdatangan membuat Nanny makin mantap terjun ke bisnis kedai kopi yang diberi nama Srikandi Café.

Untuk memulai usahanya ini, Nanny mengeluarkan modal Rp63,5 juta yang digunakan untuk membeli booth, mesin espresso semi manual, mixer, coffee grinder tipe electric burr serta alat press bubuk kopi yang terbuat dari stainless steel.

Selain itu, Nanny juga menghabiskan modal tersebut untuk pembuatan logo dan banner, pastry warmer dan steamer serta kompor portable, bahan baku, serta aneka gelas berbagai ukuran dan juga piring.

Nanny mengungkapkan pada hari kerja, Srikandi Cafe mampu meraih pendapatan Rp500.000 per hari. Pada Sabtu dan Minggu, pendapatan meningkat menjadi Rp1 juta per hari.

Dalam sebulan, dirinya mampu mengantongi omzet Rp19 juta dengan keuntungan bersih, setelah dikurangi biaya operasional, mencapai Rp8,5 juta. Hanya dalam rentang waktu 6 bulan, usahanya ini sudah mampu balik modal.

Nanny mengakui lokasi yang tidak terlalu ramai menjadi kendala usahanya saat ini. Srikandi Caffe berada di pusat perbelanjaan Blok M Square. Nanny sedang mencari lokasi untuk gerai kedua Srikandi Caffe.

Nanny berharap gerai kedua dapat berlokasi di kawasan kalangan menengah ke atas hingga penjualan pun dapat meningkat.

“Semoga nantinya lokasi yang saya dapatkan benar-benar strategis,” harap Nanny. (Jibi/k29/wde)

Related Posts