Menyulap Kain Songket Menjadi Busana Muslim

shares |

Menyulap Kain Songket Menjadi Busana Muslim - Perkembangan busana muslim di Indonesia beberapa tahun terakhir dirasakan sangat pesat. Hal ini dapat dilihat dari semakin banyaknya wanita yang menggunakan fashion hijab sebagai pilihan busana wanita muslim.

Melihat keadaan pasar busana muslim yang semakin berkembang pesat, desainer busana muslim, Iesye dengan brandnya Asyifa, mencoba untuk mengenalkan kain tenun dari daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) ke dalam busana muslim. Hal ini pun diwujudkannya dengan menggabungkan kain tenun dalam setiap rancangan terbarunya dengan mengangkat tema “In Harmony” yang diperagakan dalam Indonesia Fashion Week 2014, Jumat (21/2).

Ide dasar untuk mengangkat kain tenun didapat karena Iesye melihat, sebetulnya orang Indonesia memiliki seni yang tinggi dengan keterampilan tangan yang luar biasa sehingga dapat menghasilkan berbagai macam corak dan warna. Dari situlah muncul ide Iesye untuk tidak hanya sekadar memakai kain tenun biasa.

“Jadi tenun itu bukan Cuma kain tenun biasa, tapi diimplikasikan dengan buasana muslim. Jadi hasilnya bisa unik dan modern. Kalau seandainya kita mau pergi-pergi ke mancanegara kita pakai, tapi ada sentuhan tenunnya. Sehingga orang tahu, oh ini dari Indonesia,” kata Iesye di Indonesia Fashion Week, Jumat (21/2).

Dalam peragaan busana kali ini, Asyifa mengeluarkan 17 model terbarunya yang kaya akan warna alam, motif dan corak khas dari kain tenun NTT, seperti merah, biru, kuning, hijau, coklat, dan emas. Dalam rancangan busana yang dipamerkan kali ini, Iesye pun masih konsisten dengan model cutting classic. Untuk kain tenunnya, Iesye mengaplikasikan dalam model busana cardigan atau sarung yang dipadukan dengan longdress dari bahan sutra dan katun.

“Jadi baju muslim dengan sentuhan tenun, tema tenun in harmony yang disatukan dengan baju muslim dengan bahan kain sutra dan katun,” tambahnya. Dalam mendapatkan kain tenun asli dari NTT, Iesye mengaku biasanya menggerakan tim-nya untuk turun langsung menemui para pengrajin di daereh. Proses pembuatannya yang membutuhkan waktu hingga tiga bulan, menurutnya menjadi alasan kenapa kain tenun harganya mahal.

Related Posts