Selasa, 26 Agustus 2014

Bakudung Batiung Dayak Gaai

Bakudung Batiung, Tradisi Dayak Gaai yang Terus Dilestarikan Pesta Panen dan Pendewasaan Anak Laki-Laki
PAGI Kamis (21/8) lalu masyarakat suku Dayak Gaai berkumpul di rumah adat Kampung Tumbit Dayak Kecamatan Sambaliung. Mereka tidak hanya berasal dari kampung setempat, namun juga berdatangan dari kampung-kampung lain di pedalaman Kecamatan Kelay dan Kecamatan Segah.

RADIAN NOOR
Bakudung Batiung, Tradisi Dayak Gaai yang Terus Dilestarikan
Pesta Panen dan Pendewasaan Anak Laki-Laki
HARI Itu masyarakat Dayak Gaai yang menghuni pedalaman BUmi Batiwakkal menggelar upacara adat yang diberi nama Bakudung Batiung, tradisi yang terus dilestarikan secara turun temurun. Tidak hanya dirayakan oleh masyarakat suku asli ini, namun juga dihadiri ribuan masyarakat lainnya, termasuk orang nomor satu di Kabupaten Berau. Bupati Berau Makmur HAPK dan Wakil Bupati Ahmad Rifai beserta para pejabatnya menjadi tamu istimewa dalam perayaan adat ini. Para tamu disambut para sesepuh dan mengikuti prosesi adat yang ada.
Salah satunya adalah meminta ijin kepada kepada panglima suku dayak Gaai, Bo Ding Dohlo, yang sebenarnya sudah wafat. Namun jasadnya masih tersimpan di rumah kepala tua yang berada di tengah kampung Tumbit Dayak. Dipandu sesepuh, para tamu diajak naik ke rumah kepala adat dan mengikuti prosesi yang ada. Selanjutnya rangkaian acara sudah bisa dilaksanakan.
Bagi masyarakat suku Dayak Gaai, tradisi Bakudung Batiung adalah dua upacara adat yang berbeda. Seperti yang diungkapkan Lukas Tengah, Sekretaris Lembaga Adat Dayak Besar Kung Kemul Cabang Berau, disela-sela upacara adat ini. Dijelaskannya Bakudung adalah bahasa Berau, terjemahan dari bahasa Gaai yang berasal dari kata Nae Plie Ngatam, yang artinya dalam bahasa Indonesia adalah pesta syukuran setelah panen. Maknanya adalah menyampaikan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha esa atas perolehan kesehatan, keselamatan dalam bekerja dan secara khusus perlindunganNya terhadap tanaman padi masyarakat, dari sejak menabur benih sampai pada menuai hasil panen yang disertai dengan ritual-ritual adat.

Sementara Batiung adalah bahasa Berau terjemahan dari bahasa Gaai yang berasal dari kata Lamko, artinya pendewasaan anak laki-laki. Jaman dahulu acara ini diadakan, selalu disesuaikan dengan jumlah anak laki-laki yang akan dinobatkan menjadi laki-laki dewasa. Maknanya adalah apabila anak laki-laki akan memasuki kelompok kategori pemuda. Mereka harus melalui proses ritual pendewasaan atau lamko. Kalau seorang anak laki-laki sudah melalui proses ini, barulah dinobatkan sebagai anak laki-laki yang dewasa dan jika ia ingin berkeluarga maka hal itu sudah diperbolehkan menurut aturan adat. "Pada jaman tempo dulu, kedua kegiatan ini dibuat secara terpisah, sesuai dengan ketetapan melalui keputusan rapat adat. Namun dengan alasan dana dan waktu, maka saat ini dilaksanakan bersama, sehingga upacara adat Bakudung Batiung," Ucap Lukas.

Dalam perayaan dikatakan Lukas tidak hanya pada upacara ritual adat, namun dalam menjalin kebersamaan masyarakat Dayak Gaai, digelar berbagai lomba, seperti olahraga dan kesenian tradisional suku Dayak Gaai. Dalam rangkaian ini juga digelar rapat adat untuk penyempurnaan agar disetiap rangkaiannya tidak terlepas dari tata cara ritual adat yang sebenarnya.

Masyarakat Dayak Gaai juga memiliki tradisi yang hingga kini juga masih dipertahankan. Yaitu panjt piruai,pengambilan madu di pohon yang tinggi dengan cara berjalan diseutas rotan dari satu pohon ke pohon lainnya untuk mencapai sarang lebah. Atraksi yang dilakukan pemuda Dayak Gaai ini juga selalu ditampilkan disetiap perayaan Bakudung Batiung.

Tokoh masyarakat Dayak Gaai, Jiang Bos mengatakan perayaan bakudung baitung ini merupakan bagian dari menjaga tradisi yang sudah dilakukan secara turun temurun. Ia berharap perayaan ini terus berlanjut dan tidak hanya dirayakan masyarakat di Tumbit Dayak, namun juga masyarakat di seluruh kampung yang ada di pedalaman Bumi Batiwakkal.
Bupati Berau Makmur HAPK memberikan apresiasi kepada para tokoh dan pemuda Suku Dayak Gaai yang masih terus melestarikan tradisi ini. Menurutnya apa yang dilakukan ini merupakan bagian pengangkat kebudayaan daerah dan Tumbit Dayak sebagai salah satu kampung budaya akan menjadi tujuan wisata yang menarik. "Yang terpenting dalam perayaan ini adalah terbangunnya kebersamaan dan budaya gotong royong masyarakat dalam menjaga tradisi yang ada," ucapnya. - sapos online-

Previous
Next Post »

Post Comment

 
loading...