Habis Rebutan Lapak, Pedagang Pasar Rawa Indah Kesurupan

shares |

Habis Rebutan Lapak, Pedagang Pasar Rawa Indah Kesurupan
Pemandangan tak biasa terjadi di pasar tambahan Rawa Indah Bontang Senin (25/8) kemarin. Gara-gara berebut lapak, seorang pedagang bernama Rosna atau akrab disapa So`na hilang kendali. Bahkan kabar beredar, wanita itu dirasuki 'makhluk halus' diduga penghuni pasar tradisional tersebut. Meski tak memakan korban jiwa, namun So`na bisa bebas usai permintaan menyediakan dua ekor sapi disanggupi sejumlah pedagang yang hadir.

Informasi dihimpun Bontang Post, awalnya, So`na sempat terlibat 'adu mulut' dengan pedagang lain di pasar tersebut, sekira pukul 08.00 Wita. Penyebabnya, lapak diklaim milik So`na atas dasar kesepakatan dengan pihak Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pasar Bontang itu diklaim oleh pedagang lain. Padahal, sebelumnya lapak terletak di tepi jalan pasar itu hak pedagang buah.

Namun berbeda dengan So`na yang tidak bisa menunjukan nomor undian petak diperoleh dari UPTD pasar Bontang, pria ini mampu menunjukan nomor antrian. Namun karena tak terima, sempat terjadi 'adu mulut' dari kedua pihak. Hingga akhirnya, pihak menuntut tersebut datang membawa sejumlah rekan berperawakan keras untuk ikut membantu agar petak tersebut kembali menjadi miliknya.
Saat itulah, So`na mulai kehilangan keseimbangan diri. Bermula dari munculnya rasa sesak di dada. Kemudian berujung tak sadarkan diri selama sekira 2 jam. Namun saat terbangun, So`na sudah dalam keadaan berbeda. Dia tak bisa mengenali siapapun ada di sekitarnya.

Tingkah aneh di luar kewajaran pun mulai dilakukan. Seperti, memakan telur ayam kampung mentah sebanyak 14 butir. Disusul meminta diberikan air mineral ukuran sedang sebanyak 10 botol. Sebagian diminum, namun sisanya digunakan mengguyur kepala hingga membasahi nyaris sekujur tumbuh wanita berkemeja Biru itu.

Tak kalah miris, ketika wanita asal Sulawesi itu meminta segenggaman orang dewasa bawang merah mentah. Kemudian memasukan siung per siung bawang tersebut ke mulutnya dengan lahap. Usai meremukan bawang tersebut, So`na lantas memuntahkan bawang telah hancur tersebut ke tangannya. Dan menyimpannya ke atap pasar diraih dengan cara memanjat kerangka bangunan pasar.
Usai memanjat tiang tersebut, So`na kembali ke tempat semula.

Tingkah So`na yang di luar kewajaran itu menarik perhatian sejumlah pedagang mau pun pengunjung pasar. Dengan cepat daerah yang semula hanya dihuni segelintir pedagang, berangsur padat.
Menyadari kondisi tersebut, Sudirman sang Suami lantas berkomunikasi dengan diduga 'mahluk halus' dalam tubuh istrinya tentang tuntutan ingin dipenuhi agar tubuh istrinya terbebas.
Pukul 11.30 Wita, So`na pulih. Usai sejumlah pedagang menyaksikan insiden tersebut, ikut menyanggupi memenuhi tuntutan diduga makhluk halus tersebut agar disediakan dua ekor sapi sebagai 'tumbal' menempati pasar tambahan mau pun pasar sementara.

"Jadi dia minta tumbal 2 ekor sapi. Soal ini nanti kita komunikasikan dengan Asosiasi Pasar. Supaya bisa memfasilitasi ke UPTD. Karena ini soal kepentingan bersama pedagang. Urusan percaya atau tidak, terserah. Yang penting, di sini ada banyak saksi. Tingkah laku istri saya, memang tidak biasa," tegasnya di tengah-tengah kerumunan.
Anira atau pedagang akrab disapa Mama Uni salah seorang saksi mata membenarkan insiden tersebut.
Katanya, usai terlibat cekcok dengan pedagang menuntut agar petaknya dikembalikan itu, So`na sempat tak sadarkan diri selama sekira 2 jam. Saat terbangun itulah, So`na terlihat berbeda. Dia bisa melihat perbedaan itu, dari sorot mata tajam ditampakan. Selanjutnya, suara keluar dari mulur So`na tidak lagi menyenangkan dan parau seperti biasa. Namun seperti orang tercekik dipadu suara parau dan sesekali melengking.

"Alinya suaranya serak. Ngomongnya juga enak, kadang bercanda. Tapi tadi saya lihat memang bukan dia. Suaranya seperti orang tercekik, bergetar," bebernya.
Dia menduga, permintaan menyediakan sapi sebanyak dua ekor itu memang penting menjadi pertimbangan bersama. Sebab sebagai tempat berjualan baru, tentu harus ditebus dengan hajatan atau sebagai ucapan syukur kepada yang kuasa. "Mungkin ini memang perlu dipikirkan. Karena kita memang belum ada syukuran sebelum pindah ini," tandasnya. 
-sapos online-

Related Posts