Centini :"Korban MLM"

shares |

Centini : :"Korban MLM"
Centini : :"Korban MLM" - Centini adalah seorang ibu rumah tangga dengan dua anak. Suaminya seorang PNS. Semenjak menikah ia memilih berhenti dari pekerjaan dan mengurus keluarganya. Suami dan anak-anaknya menjadi prioritas utama. Tini panggilan akrab Centini, semenjak ia mengenal facebook, dunia ibu rumah tangga seakan tidak pernah sepi. Tini tidak pernah ketinggalan update status, tidak pernah ketinggalan gosip-gosip, trend fashion, dan juga trend kosmetik. Pokoknya yang berkaitan dengan wanita dan kecantikan. Sampai akhirnya dia bertemu dengan teman-teman lamanya di facebook. Dari facebook jugalah Tini dapat melihat update terbaru foto-foto teman-temannya yang kesemuanya boleh narsis disitu. Yang sudah beranak 1, 2, 3 yang masih tetap cantik, sexy, atau bahkan sebaliknya, ada yang berubah menjadi berisi dan gendut.

Satu hari, Tini mendapat ajakan untuk menjadi member MLM dari salah seorang temannya. Teman yang lama tidak bersua, ujug-ujug muncul add as friend darinya, lalu mengiriminya inbox message dan membujuk Tini agar ikutan menjadi anggota MLM, alias menjadi downlinenya. “Ayuk Tin, gabung sama aku, bisnis dengan modal kecil, yang cuma tiga puluh ribu rupiah, bisa menghasilkan pendapatan juta – juta per bulan. Pas banget loh, dilakukan oleh kita-kita ibu rumah tangga, bisa kerja dirumah, sambil njagain anak. Tinggal online aja. Gampang kan???”

Sebagai seorang wanita yang normal, ibu rumah tangga yang tidak ngantor, Tini pun kepenchut. Siapa yang tidak ingin punya penghasilan sendiri, tanpa harus kerja keluar rumah. Akhirnya Tini mengeluarkan uang tiga puluh ribu rupiah dari uang belanjanya. Dan gabung ke jaringan Dori sebagai upline nya. Untuk pembelanjaan pertama agar tutup poin, Tini harus belanja sebesar dua ratus lima puluh ribu rupiah. Agar mendapatkan bonus new member. Akhirnya, ia pun melakoninya. Uang belanja bulanan yang diberi oleh suaminya seharusnya untuk anggaran menabungnya, melayang sudah. Dori sebagai uplinenya selalu memberikan semangat: “Ini buat invest, kamu bisa menjual produk itu lagi say, dengan harga konsumen tentunya. Jadi kamu adalah seorang konsultan kecantikan.”

Tini berusaha menjual bedak, kosmetik perawatan tubuh dan parfum ke teman-temannya, ibu-ibu darma wanita kantor suami, teman PKK, ibu-ibu dari teman anaknya. jawaban dari mereka adalah, “Walah,,,, saya kan juga sudah menjadi member MLM ini bu.”

Adalagi teman ibu-ibu darma wanita suaminya, “Walah, gaji suami saya wong cuman tiga juta, anak tiga, kok disuruh beli kosmetik semahal itu, Bu. Aduduuuu…. ngga ku ku dong…”

Dari kegagalan menjadi konsultan pengalaman pertama ia masih bersabar. lalu bulan ke dua, datang katalog member lagi, ada diskon member yang lumayan. Dori sebagai upline Tini selalu rajin memfollow pembelanjaan downlinenya. “Ayo Tin, bulan ke dua ini kamu harus belanja senilai lima ratus ribu rupiah, agar kamu bisa tutup poin, dan mendapatkan bonus new member sebuah parfum yang bernilai empat ratus ribu rupiah.”

Sebagai downline yang baik, ia pun belanja. Uang bulanan dari suaminya terpaksa dipangkas pada anggaran makan bulanan, uang beras yang semula rojo lele sekarang terpaksa menjadi delanggu dulu. Lalu susu formula anaknya yang semula seharga seratus ribu per kaleng, menjadi yang seharga separuhnya, tidak cukup itu saja, Pampers anaknya yang semula seharga seratus ribu per box pun, sekarang menjadi merk dengan harga paling ramah di kantong.

Suaminya sudah mulai komplain, “Mami, gimana perkembangan MLM mu, udah dapet bonus belum?”

“Kan bulan pertama aku tupo, papi jadi udah dapet lipstik seharga seratus lima puluh ribu. Bulan ini aku juga tupo nih, nanti aku dapet parfum senilai empat ratus ribu. Nanti parfumnya buat Papi deh..”

“Lho kok buat papi?”

“Iya, kan parfumnya buat main kita ntar malem..”

“ya ya ya…asik mami wangi nih yee.. biasanya bau bawang tangannya”

Sampai pada bulan ke tiga, Tini belum mendapatkan downline lagi, memang susah mendapatkan downline, kebanyakan dari teman-temannya ternyata sudah menjadi member. Tidak hanya itu, produk-produk yang dibeli Tini pun juga susah dijual kembali, selain teman-temannya juga sudah menjadi downlinenya, ia pun sering ditolak, karena harganya yang tidak terjangkau. kalau ada 1,2 teman yang beli pun, bulan berikutnya ia malas beli, karena memang sedang tidak ada rencana beli kosmetik. Semua persediaannya masih ada komplit.

Bulan ke tiga, katalog datang lagi. Tini bersiap-siap di follow Dori. “Tin, bulan ini tupo yah, kamu bakal mendapat jam tangan senilai 1.750.000.” Pengorbanan kembali uang belanja bulanan, kali ini ia harus merogoh ATM nya, uang bulanan dari suami tidak cukup! karena ia harus belanja senilai tujuh ratus lima puluh ribu rupiah. Agar tutup poin dan mendapatkan bonus.

“Aduhhhh, aku mau belanja apa lagi yaa…. lipstik masih ada 3 biji baru gress, belum ku pakai semua, ditawarin ke orang belum tentu pada mau. Handbody masih ada 2 botol gede belom abis dipake, Parfum masih ada 2botol, kudu belanja apa lagi dong??? Kata Dori alihkan uang belanja bulanan anda disini. Lha mending kalau disini jualan beras, lauk pauk, sayur, susu bayi, pempers. Masak aku kudu belanja 750 ribu tapi aku blenger pakenya? kapan pakenya coba??? Aku kan jarang keluar rumah??”

“Gimana nih, Dor, susah ngejual produknya ke temen-temen. mereka kebanyakan sudah pada member, atau ga cocok sama harganya. Ada lagi, jg alasannya kosmetiknya masih komplit smua, blum ada yang abis..”

Dori pun dengan tidak mau kalah menyemangati Tini,” Tin, kamu bisa pakai kosmetik – kosmetik itu buat kado temen- temen kamu, sodara-sodara kamu, waktu mereka menikah, ada lagi waktu mereka punya baby, atau mereka ultah.”

“Aduh… kemaren sih rencana mau ngado tetangga yang nikah, di undangannya ada tulisannya tidak menerima sumbangan kado!! huhuhuuuuuu…”

Tini sudah mulai jengah dengan MLM nya. Sangat tidak cocok dengan keadaanya. Sebuah bisnis yang terpaksa ia coba jalani, ia berasa seperti robot yang dikendalikan oleh remote kontrol. Setiap bulan ada reminder dari upline untuk selalu menyemangatinya agar belanjanya selalu tutup poin untuk mendapatkan iming-iming bonus, dan akhirnya bulan berikutnya naik pangkat ke level ExX%.

Pada tiga bulan pertama, ia sudah menghabiskan uang sekurang-kurangnya dua juta plus uang pendaftaran menjadi member. Tapi, kosmetik yang ia pakai belum tentu cocok. terkadang ia merasa gatal pada muka, bau bodylotion yang tidak ia sukai, parahnya lagi, si suami tidak menyukai bau parfum bonusnya.

“Aduhhhhhhhh, mami.. parfum kayak gini kok dibeli!! ini baunya nggak enak. Papi mlenger ah sama baunya, pusing.. kayak minyak si nyong nyong.. Lain kali kalau beli dicium baunya dulu dong, di coba bau nya wangi / gak.”

“Aduh Papi sayang,… Lhawong ngga ada testernya kok… pie jal.. gimana sih.. kan dari gambar katalognya aku kepencut sama modelnya kok ayu ayu,.. ada gambar bunga dan aroma wood, citrus, clove, dipadukan.. ya meneketehe dong baunya kayak apa?”

“Walah… kok begitu Mami, beli ya kudu tau yang dibeli dong.. Mosok mau asal coba-coba. kalau gratis nggapapa, mami. Lhawong yang dipake uang bulanan buat beli beras, popok anak, dan susu anak.. kalau begini kan makan jadi ngga enak.. yang semula makan rojolele jadi delanggu, anak-anak jadi kurus susunya dirit- irit, anak-anak juga nggak nyaman sama popoknya… Udah gini, bau parfumnya kayak entut..serba ndak enak smua ini, Mami..”

“Okelah Papi, kalau begitu, aku stop aja ya. Daripada uangnya menguap buat koleksi kosmetik aku. Aku berhenti aja lah. Capek di kantong dan pikiran.. kasian papi dan anak-anak.”

“Lha iya memang sepertinya harus udah berhenti, mending uangnya mbok tabung, kapan-kapan kamu bisa bisnis sendiri. Bisnis catering misalnya, kan kamu pinter masak, Mami. Lagian kamu kan emang dasarnya udah cantik apa adanya, sayang. Masak mau koleksi kosmetik. Mami kan bukan artis?.”

“Iya, papi… maafkan mami ya…sudah membelanjakan uang bulanan plus menjebol uang tabungan di ATM selama tiga bulan ini”

Akhirnya Tini insyaf, sadar kalau bisnis setiap orang tidak bisa disama ratakan. Tini tidak mampu berbisnis model gituan. Dia jengah merasa seperti robot yang dikontrol oleh remote.

Pada awal bulan ke empat Dori kembali menghubungi Tini, “Say, bulan ini kalau bisa tupo lagi yah… naik level say.. bonus akan segera meluncur ke rekening akhir bulan lho..”

Tini langsung menjawab, ” Sori Dori lah yaw.. you Tupo,, I Tupbuk aja dahhh.. tutup buku saklawase.. oke baabayy”

Di Lt.18

Awal maret, Pukul 3 sore waktu kendedes

Related Posts