Iduladha Beda, Isbat Lebih Lama

shares |

Iduladha Beda, Isbat Lebih Lama - JAKARTA - Pemerintah akhirnya memutuskan Iduladha (10 Zulhijah) 1435 H jatuh pada Ahad, 5 Oktober, mendatang. Keputusan ini diambil setelah digelar sidang isbat yang mengumpulkan hasil rukyah (pemantauan) hilal di 70 titik seluruh Indonesia. Hasil pemantauan dinyatakan hilal tidak terlihat.

Dengan keluarnya keputusan versi pemerintah, Iduladha tahun ini berlangsung tidak serentak. Sebelumnya, Muhammadiyah sudah memaklumatkan Iduladha pada Sabtu, 4 Oktober, nanti.

Sidang isbat malam tadi berlangsung cukup lama --lebih satu jam. Wakil Menteri Agama (Wamenag) Nasaruddin Umar bahkan mengakui lebih lama dibanding sidang isbat penetapan 1 Ramadan atau 1 Syawal lalu.

“Bukan terkait karena ada perbedaan,” ungkap Nasaruddin. Sidang isbat semalam berlangsung lama karena tidak terlalu ditunggu-tunggu masyarakat hasilnya. Berbeda sidang isbat penetapan 1 Ramadan (sebagai acuan salat Tarawih) atau penetapan 1 Syawal (sebagai acuan malam takbiran). “Iduladha ‘kan masih berlangsung 5 Oktober nanti,” jelasnya.

Alasan kedua adalah kesempatan bertemu dengan banyak ormas. Nasaruddin menuturkan, terjadi dialog untuk mencari titik temu kriteria penetapan hari-hari besar agama Islam ke depan.

Terkait perbedaan penetapan Iduladha, Nasaruddin menjelaskan implikasinya tidak sebesar atau serumit ketika perbedaan awal Ramadan atau Idulfitri. Meski begitu, Nasaruddin mengakui masyarakat muslim Indonesia mengidamkan adanya kekompakan. Termasuk dalam penetapan hari raya. Kemenag berharap masyarakat tidak saling mengolok-olok atas perbedaan itu. Menurut Nasaruddin, penetapan hari-hari besar dilandasi pada keyakinan setiap umat Islam.

Nasaruddin menjelaskan, dampak perbedaan penetapan Iduladha yang berpotensi menimbulkan polemik adalah penetapan Yaumil Arafah atau hari jamaah wukuf di Padang Arafah. Pemerintah Arab Saudi sudah menetapkan Yaumil Arafah jatuh pada Jumat, 3 Oktober. Pada hari itu, umat Islam yang tidak berhaji disunahkan melaksanakan puasa Arafah.

Ketika Iduladha masyarakat Indonesia merujuk ketetapan pemerintah (5 Oktober), maka puasa Arafah-nya jatuh pada Sabtu, 4 Oktober. Saat disambungkan dengan kondisi di Arab Saudi, jamaah haji di sana justru sudah merayakan Iduladha. Sehingga, puasa Arafah yang umumnya dilaksanakan ketika jamaah haji menjalankan wukuf, tidak cocok lagi.

Terkait kondisi ini, Nasaruddin menuturkan kondisi Saudi dan Indonesia tentu tidak bisa disamakan dalam penetapan sidang isbat. Dia menjelaskan, Indonesia sudah tergabung dalam komunitas Majelis Agama Brunei Darussalam, Indonesia, dan Malaysia (MABIM).

Dalam komunitas ini, disepakati bahwa penetapan bulan baru dalam kalender Islam merujuk sistem imkanur rukyah. Dalam sistem ini, dikatakan sudah berganti bulan jika posisi hilal minimal 2 derajat di atas ufuk. Sedangkan kondisi malam tadi, posisi hilal masih sekitar 0,63 derajat di atas ufuk.

Karena saat pengamatan posisi hilal tidak sampai 2 derajat di atas ufuk, maka diambil kebijakan isti’mal. Yaitu menggenapkan jumlah hari dalam bulan Zulkaidah menjadi 30. Sehingga, 1 Zulhijah baru masuk pada Jumat 26 September. Itu artinya, Iduladha (10 Zulhijah) jatuh pada 5 Oktober.

Ketua PP Muhammadiyah Yanuhar Ilyas mengatakan, pemerintah bersama ormas lain sepakat mencari titik temu untuk menyamakan kriteria penetapan hari-hari besar Islam. “Sekarang memang masih ada perbedaan,” ujarnya.

Muhammadiyah dalam menentukan hari-hari besar Islam merujuk sistem wujudul hilal. Sistem itu dilakukan dengan hisab. Intinya, bulan dalam kalender Islam sudah berganti ketika hilal sudah di atas ufuk, berapapun derajatnya.

Related Posts