Kalimantan Jadi Surga Obat Jantung

shares |

Kalimantan Jadi Surga Obat Jantung - PETUALANGAN dr. Ratih dan dr. Andri di Krayan, Kalimantan Utara yang terkenal sebagai penghasil beras Adan dan surga tanaman obat, dimulai desa Buduk Kubul hingga Wa Yagung, sebuah desa yang dikelilingi hutan penuh tanaman obat tradisional.




***

Akhirnya saya tiba juga di Bandar Udara Juwata Tarakan setelah meninggalkan kota Balikpapan, Kalimantan Timur 1 jam sebelumnya. Tarakan adalah kota terbesar di provinsi termuda Indonesia, Kalimantan Utara, sekaligus pintu masuk saya menuju Desa Buduk Kubul, tempat penyelenggaraan acara Panen Raya Irau 2013. Buduk kubul hanya dapat dicapai dengan menggunakan pesawat perintis dengan kapasitas 5 penumpang saja, dan membutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk mencapai desa tersebut.

Keesokan paginya, dalam perjalanan menuju Buduk Kubul, saya harus singgah di desa (nggak tahu namanya) karena cuaca yang kurang mendukung. Di tempat tersebut, saya menggunakan kesempatan untuk berkenalan dengan masyarakat setempat dan diajak untuk melihat fasilitas umum di sana. Desa ini ternyata memiliki sebuah pembangkit listrik tenaga air swadaya masyarakat yang telah memberikan manfaat selama 2 tahun terakhir.

Sesampainya di Buduk Kubul, saya, Ratih dan tim segera disambut oleh masyarakat setempat serta beberapa tetua adat. Festival Panen Raya Irau diadakan setiap tahunnya untuk merayakan keberhasilan panen selama setahun.

Buduk kubul merupakan wilayah subur di daerah pegunungan Krayan, dekat dengan perbatasan Indonesia dan Sarawak di Malaysia, yang terkenal dengan budidaya beras adan, beras organik pilihan para sultan dan raja di Malaysia dan Brunei Darussalam.

Selama saya tinggal di Buduk Kubul, saya ikut merasakan nasi yang ditanak dari beras pilihan raja. Sebagai beras pilihan raja, seharusnya penghasil beras adan akan mendapatkan penghasilan yang tinggi, namun yang terjadi adalah sebaliknya, beras ini hanya dijual sekitar Rp 10.000 per kilonya, yang terhitung sangat murah bila dibandingkan dengan harga di Malaysia yang menginjak 50 hingga 75 ringgit per kilonya.

Seusai acara Irau berakhir, saya melanjutkan perjalanan menuju Long Bawan, sebuah kota kecil yang berjarak sekitar 3 km dari perbatasan Indonesia dan Ba'kelalan di Sarawak Malaysia. Perjalanan ini ditempuh dengan jalan kaki selama 6 jam mendaki gunung di tengah hutan Kalimantan.

Sesampainya di Long Bawan, saya tinggal di rumah Pa Yagung, ketua adat Dayak Lundayeh. Selain listrik yang hanya menyala 6 jam sehari, kenyataan banyaknya jalan yang rusak serta harga barang-barang buatan Indonesia yang jauh lebih mahal dibandingkan barang-barang Malaysia menarik saya untuk berbincang dengan pak Yagung tentang hal ini. Dari perbincangan itu terungkap kurangnya perhatian pemerintah Indonesia terhadap daerah perbatasan adalah penyebab utamanya.

Ketertarikan itu saya buktikan dengan perjalanan saya bersama tim langsung ke titik patok perbatasan dan berbincang dengan beberapa pedagang Indonesia dan Malaysia yang saling bertemu untuk berdagang di titik perbatasan. Harga bahan bakar yang mahal yang dibutuhkan sebagai imbas kurangnya pasokan listrik, serta akses jalan banyak yang rusak memicu masyarakat setempat lebih memilih menggunakan barang-barang buatan Malaysia. Adalah Yagung yang kemudian menyebutkan kalimat menarik saat perjalanan pulang, "Hati kami milik Indonesia, tapi perut kami milik Malaysia".

Keesokan harinya, perjalanan saya berlanjut menuju ke Wa' Yagung, sebuah tempat kaya akan tanaman obat tradisional di tengah hutan Kalimantan. Sesuai lokasinya yang benar-benar di tengah hutan, perjalanan hanya bisa dilakukan dengan jalan kaki sekitar 10 jam. Semua akhirnya terbayar, begitu kami mencapai Wa' Yagung dan mendapati penderita terinfeksi HIV yang menunjukkan perbaikan setelah diberikan pengobatan tradisional dari tanaman asli Kalimantan. Sebagai seorang dokter, pengetahuan ini tentunya baru untuk saya, karena hingga saat ini Infeksi HIV belum bisa disembuhkan, namun hanya bisa menekan replikasi virus HIV nya saja.


Banyak hal baru yang saya jumpai sebagai dokter saat tinggal di daerah Krayan, salah satu surga tanaman obat tradisional di Indonesia. Dan saya menjadi teringat akan kalimat yang pernah diajarkan oleh salah satu guru saya, seorang ahli Bedah Onkologi, yang menyatakan perlu waktu hampir seratus tahun untuk meneliti sebuah tanaman pinus dan menjadikannya sebagai obat kemoterapi untuk kanker payudara. Demikian halnya, akan begitu banyak obat yang akan ditemukan dari kekayaan tanaman asli di Kalimantan. - kompas-

Related Posts