Brigadir Polisi Rudy Soik Di tangkap Usai Acara acara Mata Najwa Metro TV

shares |

Brigadir Polisi Rudy Soik Di tangkap Usai Acara acara Mata Najwa Metro TV - Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur AKBP Agus Santosa SH SIK menyatakan, penangkapan terhadap Brigadir Polisi Rudy Soik tidak berkaitan dengan kehadiran Rudy di acara Mata Najwa yang disiarkan di Metro TV pada Rabu (19/11/2014).

Dalam surat klarifikasi yang disampaikan ke Kompas.com, Agus menjelaskan kronologi penahanan terhadap Brigadir Rudy. Agus menyatakan bahwa penyidikan Brigadir Rudy berdasarkan laporan polisi bernomor B/327/XI/2014/SKPT tanggal 7 November 2014 dengan pelapor atas nama Ismail Pati Sanga. Rudy dilaporkan telah menganiaya Ismail.

Berdasarkan hasil penyidikan dengan mengumpulkan alat bukti, pemeriksaan saksi dan tersangka, serta hasil visum et repertum, Rudy layak dijadikan tersangka karena memenuhi unsur ayat 1 Pasal 351 KUHP.
Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) resmi menetapkan Brigadir Polisi Rudy Soik sebagai tersangka dalam kasus dalam kasus penganiayaan terhadap Ismail Pati Sanga (30), warga Adonara, Kabupaten Flores Timur, NTT, Rabu (29/10/2014).

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda NTT, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Agus Santoso, mengatakan, Brigpol Rudy terlibat kasus pemukulan terhadap Ismail di Kelapa Lima, Kota Kupang.

“(Setelah ditetapkan sebagai tersangka), polisi tidak menahan dengan pertimbangan yang bersangkutan kooperatif, tidak melarikan diri, tidak menghilangkan barang bukti,” jelas Agus.

Penganiayaan terjadi ketika Ismail dijemput Brigpol Rudy dan beberapa rekannya di Kelapa Lima, Kota Kupang. Rudy meminta Ismail memberitahukan keberadaan Tony Seran. Namun, Ismail mengaku tidak mengetahuinya. Akibatnya, Ismail dipukul dan ditendang di bagian dada.

Sementara itu Rudy Soik yang dihubungi Kompas.com, Minggu (9/11/2014) lalu mengaku dirinya dan keluarga mendapat ancaman pembunuhan melalui telepon dari orang tak dikenal.

Selain itu juga, setelah bertugas anggota tim pengusut mafia perdagangan orang di NTT, Rudy mengaku mendapat sejumlah teror dan intimidasi dari sejumlah pejabat tinggi di Polda NTT yang pernah dilaporkan Rudy ke Komnas HAM.

Untuk diketahui Rudy Soik yang menjadi penyidik pada Direktorat Kriminal Khusus (Dirkrimsus) Polda NTT mengadukan atasannya, Direktur Krimsus Polda NTT, Kombes Pol Mochammad Slamet ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) di Jakarta, Selasa (19/8/2014) lalu.

Slamet dituding menghentikan secara sepihak penyidikan kasus calon TKI ilegal yang sedang ia tangani. Kasus itu, kata Brigadir Rudy, terjadi pada akhir Januari 2014 lalu. Ketika itu, ia bersama enam rekannya di Ditreskrimsus Polda NTT menyidik 26 dari 52 calon TKI yang diamankan karena tak memiliki dokumen.

Terkait laporannya ke Komnas HAM, Brigadir Rudy siap dipecat jika terbukti aduannya itu rekayasa. Namun, jika komandan yang terbukti bersalah, maka dia meminta masyarakat dan pemerintah untuk menghukumnya. Selain itu, Brigadir Rudy juga meminta Polda NTT untuk tidak memperlakukan dirinya seperti musuh bagi polisi karena bagaimanapun dia dan komandannya, Kombes Pol Mochammad Slamet adalah anggota polisi aktif.


Setelah itu, berkas perkara Rudy dilimpahkan ke Kejaksaan Tinggi NTT pada 13 November 2014. Lalu, pada 18 November 2014, berkas Rudy dinyatakan lengkap atau P21 oleh Kejati NTT.

Dengan adanya P21, lanjut Agus, penyidik berkewajiban untuk menyerahkan tersangka dan barang bukti kepada jaksa penuntut umum untuk dilakukan tahap berikutnya oleh Kejati NTT.

Maka dari itu, penyidik Polda NTT menahan tersangka Brigadir Rudy Soik pada Rabu (19/11/2014) lalu pukul 19.30 Wita untuk memudahkan proses ke tahap berikutnya.

"Jadi, proses penahanan Brigadir Rudy Soik tidak ada hubungannya sama sekali dengan kejadian yang bersangkutan maupun dalam acara Mata Najwa yang disiarkan oleh Metro TV," kata Agus dalam surat yang dikirimkan pada Jumat (21/11/2014) atau hari ini.
etelah tampil dalam acara Mata Najwa yang ditayangkan di Metro TV, Brigadir Polisi Rudy Soik langsung ditahan oleh penyidik Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan tuduhan menganiaya Ismail Paty Sanga (30), warga Adonara, Kabupaten Flores Timur, NTT, pada Rabu, 29 Oktober 2014 lalu.

Brigpol Rudy yang dihubungi Kompas.com, Rabu (19/11/2014) malam, mengatakan, dia tampil secara taping di acara Mata Najwa pada pekan lalu dan baru disiarkan pada Rabu (19/11/2014) malam ini. Setelah taping selesai, ia langsung menjalani penahanan di Polda NTT.

"Saya baru saja ditahan dengan kasus penganiayaan terhadap Ismail dan baru saja tayang acara Mata Najwa di Metro TV. Mereka langsung tahan saya. Saya minta tolong dimuat di media supaya semua orang tahu kalau memang perjuangan saya harus berhenti di sini, ya mau bilang apa, tetapi kalau mau lanjut, ya maka saya akan maju terus," kata Brigpol Rudy melalui sambungan telepon.

Rudy yang mengaku bisa menelepon dari ruang tahanan menyatakan dirinya akan dijerat Pasal 351 ayat 1 KUHP tentang penganiayaan. Namun, Rudy membantahnya. Ia mengaku hanya menggeledah badan Ismail Paty. Dia pun akan membuktikannya di pengadilan.

Rudy pun berharap proses penyelidikan kasus penganiayaan ini terus berjalan baik. Sebab, menurut dia, ia terlalu cepat ditetapkan sebagai tersangka dan langsung ditahan seolah-olah dia akan menghilangkan barang bukti dan melarikan diri.

"Coba kalau masyarakat yang lapor kasus lain, itu pasti bertahun-tahun prosesnya dan tidak secepat kasus yang menimpa saya, yang semuanya serbacepat. Sekarang posisi saya sebagai penyidik kasus perdagangan orang, tapi kok saya ditahan? Alasan apa saya ditahan, apakah saya mau melarikan diri? Ataukah mau menghilangkan barang bukti? Bagi saya, ada satu kejanggalan dalam kasus ini," kata Rudy.

Untuk diketahui, dalam tayangan Mata Najwa Rabu malam, Brigpol Rudy menjadi salah satu tamu yang diundang sebagai pembicara dalam kasus perdagangan orang di NTT. Rudy membeberkan semua sindikat mafia perdagangan manusia yang ada di NTT. [Baca: Laporan Brigadir Rudy, Pintu Masuk Bongkar Mafia Perdagangan Manusia NTT]

Hal tersebut yang diduga kuat menjadi pemicu Brigpol Rudy Soik ditahan berdasarkan laporan Ismail Paty Sanga dalam kasus penganiayaan yang terjadi di Bimoku, Rabu (29/10/2014) dini hari lalu. [Baca juga: Dilaporkan Menganiaya, Brigpol Rudy Soik Dijadikan Tersangka]

Untuk diketahui, penganiayaan yang menimpa Ismail itu berawal saat Ismail, perekrut tenaga kerja Indonesia (TKI), dijemput Brigpol Rudy dan beberapa rekannya di Kelapa Lima, Kota Kupang. Ismail dijemput lantaran diminta Rudy untuk memberitahukan dan menunjukkan keberadaan Tony Seran, perekrut TKI lainnya.

Namun, saat ditanya, Ismail mengaku tidak mengetahuinya. Akibatnya, Ismail dipukul dan ditendang di bagian dada. Karena tak puas, Ismail lantas melaporkan kasus penganiayaan itu pada Jumat (7/11/2014) lalu. [Baca juga: Brigpol Rudy Soik Korban Kriminalisasi Mafia "Trafficking"?]

Brigpol Rudy Soik yang menjadi penyidik pada Direktorat Kriminal Khusus (Dirkrimsus) Polda NTT mengadukan atasannya, Direktur Krimsus Polda NTT Kombes Pol Mochammad Slamet, ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) di Jakarta, Selasa (19/8/2014) lalu. Slamet dituding menghentikan secara sepihak penyidikan kasus calon TKI ilegal yang sedang ia tangani. [Baca juga: Adukan Komandannya ke Komnas HAM, Langkah Briptu Rudy Dipuji]

Kasus itu, kata Brigpol Rudy, terjadi pada akhir Januari 2014 lalu. Ketika itu, ia bersama enam rekannya di Ditreskrimsus Polda NTT menyidik 26 dari 52 calon TKI yang diamankan karena tak memiliki dokumen.

Related Posts