5 Fakta Anda Harus Berhenti Makan Mie Instan

shares |

5 Fakta Anda Harus Berhenti Makan Mie Instan - Enak dan praktis. Begitu alasan paling umum orang doyan menyantap makanan yang populer ini. Tetapi perlu diketahui, Mie Instan bisa merusak kesehatan.

Belum lama ini media online juga mengabarkan soal bahaya mengomsumsi Mie Instan.

Dari sekian risiko bahaya pada berita itu, ternyata masih ada fakta baru yang penting diketahui.

Seperti dilansir media Jerman, dw.de, Kamis (12/3/2015), berikut beberapa fakta penting yang sebaiknya Anda ketahui tentang Mie Instan:

Kurangi Kemampuan Tubuh Serap Gizi

Jika Anda makan mie instan dan setelahnya menyantap makanan sehat seperti sayur dan buah, maka tubuh tidak akan bisa menyerap semua kandungan gizi dari makanan sehat tersebut.

Ini karena mie instan yang Anda konsumsi, mempengaruhi secara negatif proses pencernaan hingga Pemicu Penyakit Kanker

Mie instan biasanya mengandung bahan pengawet, zat anti beku, dan unsur lain yang bersifat karsinogen atau bisa mengakibatkan kanker.

Lagipula, mie seduh instan biasanya dikemas dalam "cangkir polistirena" yang mengandung zat pemicu kanker, plasticizer dan dioksin, dan bisa tercampur ke dalam mie begitu diseduh dengan air panas.

Kandungan Natrium Berlebihan

Kadar natrium tinggi bisa menyebabkan batu ginjal dan gangguan ginjal lainnya. Kandungan rata-rata natrium pada sebungkus mie instan lebih dari 800 mg.

Sedangkan menurut saran para pakar kesehatan, jumlah asupan maksimum natrium per hari adalah 2400 mg.

Jadi seporsi mie instan saja sudah hampir memenuhi setengah dari jumlah asupan natrium yang disarankan.

Efek Samping MSG

Mie instan juga kaya penyedap masakan MSG (monosodium glutamat). Ada yang alergi terhadap MSG, atau juga merasa sakit kepala atau sakit dada setelah menyantap mie instan. Konsumsi MSG juga berkorelasi dengan penyakit lain, termasuk kanker.

Mengandung Zat Anti Beku

Mie instan biasanya diimbuhi zat anti beku seperti propylene glycol yang bertujuan untuk mencegah mie menjadi kering.

Konsumsi bahan aditif anti beku ini diyakini memicu berbagai resiko kesehatan, termasuk gangguan hati, jantung dan ginjal serta bisa melemahkan sistem kekebalan tubuh. (dw.de)

Related Posts