Dolar Rp 13.000 Seperti Krismon 1998, Ini Kata Jokowi dan Menteri

shares |

Dolar Rp 13.000 Seperti Krismon 1998, Ini Kata Jokowi dan Menteri - Pekan lalu, dolar Amerika Serikat (AS) menembus level Rp 13.000. Ini merupakan level terendah rupiah sejak 17 tahun lalu, atau tepatnya pada Juli 1998 saat krisis moneter dialami Indonesia.

Kamis (5/3/2015) lalu, dolar menyentuh level Rp 13.025. Dolar memang tengah 'menggila' di dunia, karena kembali bangkitnya ekonomi AS pasca krisis 2008 lalu.

Penguatan dolar juga didorong oleh kondisi negara-negara di Eropa, Jepang, bahkan China, yang tengah mengalami perlambatan ekonomi, sehingga AS menjadi seakan tanpa lawan.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) beserta menteri mengungkapkan sikap pemerintah, berkaitan dengan kondisi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, yang melemah seperti di 1998. Berikut rangkumannya, seperti dikutip, Senin (9/3/2015).

1. Jokowi: Tak Sama dengan 1998

Presiden Jokowi menegaskan, masyarakat tak perlu khawatir dengan kondisi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang menembus Rp 13.000. Ia menanggapi adanya kekhawatiran, kondisi tersebut bisa terulang, seperti krisis moneter (krismon) 1998.

"Dulu kan dari Rp 2.000/US$ meloncat ke Rp 15.000/US$ nggak lah," kata Jokowi tertawa lebar saat ditanya soal kekhawatiran krismon 1998 terulang, ketika meninjau pabrik alat potong padi milik PT Jogja Inovasi Teknik, Madiun, Jawa Timur, Jumat lalu.

Jokowi mengatakan, fundamental ekonomi Indonesia saat ini sangat baik, misalnya inflasi yang rendah bahkan Januari-Februari 2015 terjadi deflasi. Selain itu, dari sisi fiskal APBN Perubahan (APBN-P) 2015 mempunyai ruang fiskal lebih besar untuk infrastruktur. Sehingga akan memicu pertumbuhan ekonomi dan neraca perdagangan yang positif pada Januari 2015.

"Coba dilihat dari bulan kebulan juga meningkat lebih baik, karena ini memang pengaruh dari eksternal dari global, Quantitative Easing (QE), Yunani, ekonomi di Eropa, saya kira pengaruh pengaruh seperti itu dan semua negara mengalami itu," katanya.

Jokowi menegaskan, masyarakat tak perlu khawatir terhadap nilai tukar yang melemah, fenomena ini dialami oleh semua negara. "Saya kira semua negara mengalami itu dan masyarakat ya tenang-tenang sajalah coba tanya ke Gubernur BI menyampaikan juga tenang tenang saja kok," kata Jokowi.

Pada Jumat akhir pekan lalu, dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah di posisi Rp 12.970 per dolar AS, dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan kemarin di Rp 12.985.

Sebelumnya dolar sempat menguat hingga Rp 13.000. Ini merupakan yang terlemah sejak 17 tahun terakhir.

2. Dolar Rp 13.000 Sekarang Beda dengan Krismon 1998

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan, depresiasi alias pelemahan rupiah terhadap dolar AS Kamis lalu berbeda dengan saat Krismon 1998. Tingkat depresiasi rupiah saat ini tidak setajam 1998.

Pada 1998, dolar lompat tinggi ratusan persen sehingga menjadi Rp 13.000.

"Sebenarnya kita berpatokan pada 1998 di mana terjadi depresiasi cukup tinggi terhadap rupiah. Tapi kondisinya sekarang berbeda. Perjalanan rupiah ke 13.000/US$ bukan karena depresiasi ratusan persen. Ada keseimbangan baru pola mata uang dunia. Patokannya dolar Amerika," kata Bambang di kantornya Jumat lalu.

"Pesan investor ke saya, negara yang dianggap baik patokan ekonominya untuk negara berkembang yakni India dan Indonesia," lanjut Bambang.

Dia mengatakan, tidak ada cara untuk membuat rupiah menguat dengan cepat. Tapi, pemerintah mencoba memperkuat rupiah dengan cara meningkatkan anggaran belanja produktif, memperbaiki rasio utang, dan menurunkan defisit transaksi berjalan.

"Saya yakinkan ke anda semua. Setelah urusan APBN dan pencairan DIPA, selanjutnya Kita fokus pada kebijakan mengurangi current acconunt deficit (defisit transaksi berjalan). Seperti mengendalikan impor, mendorong ekspor," kata Bambang.

3. Dolar Tembus Rp 13.000 Jadi Perhatian Utama Jokowi

Nilai tukar dolar AS hari ini melonjak tinggi terhadap mata-mata uang dunia, termasuk rupiah. Lonjakan mata uang Paman Sam ini jadi perhatian Presiden Joko Widodo (Jokowi).

"Sangat, itu menjadi perhatian utama Presiden," ujar kata Sekretaris Kabinet, Andi Widjajanto, Kamis lalu.

"Presiden beri arahan pertama soal inflasi termasuk di dalamnya soal beras. Presiden minta menteri terkait untuk mengamati kurs rupiah," ujarnya.

4. JK: Dolar Rp 13.000, Diintervensi Tak Akan Mempan

Penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) yang sempat menembus Rp 13.000 disebabkan faktor eksternal. Maka dari itu, pemerintah menilai intervensi yang dilakukan tidak akan mempan.

"Diintervensi apa pun kalau terjadi penguatan dari faktor eksternal tidak akan mempan, ini eksternal. Tapi tidak apa-apa," kata Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK), Jumat lalu.

Dolar AS memang menguat terhadap beberapa mata uang dunia, termasuk rupiah. Pemicunya adalah rencana The Federal Reserve (The Fed) yang berniat menaikkan suku bunga.

Naiknya suku bunga itu menjadi sinyal, ekonomi AS makin membaik. Sehingga banyak orang memburu dolar AS. Selain itu, data tenaga kerja AS di Februari juga menunjukkan ada pertumbuhan yang solid.

Maka dari itu, pemerintah mengimbau para pelaku usaha dalam negeri untuk bertransaksi menggunakan rupiah, sehingga tidak bergantung kepada dolar AS. Pemerintah juga sudah mengeluarkan undang-undang (UU) terkait penggunaan rupiah dalam transaksi dalam negeri.

"UU-nya ada, sebagian besar kita pakai rupiah walaupun tarifnya dolar. Tapi kan kita bayar dengan rupiah sebenarnya. Katakanlah hotel, ada hotel yang tarif dolar, tapi orang bayar dengan rupiah, kecuali orang asing," kata JK.


Related Posts