Peminat Beasiswa Dibilang Sedikit

shares |

Dua nama penerima beasiswa khusus internasional program Kaltim Cemerlang yang jadi sorotan, Cita Imas Annisa dan Akhmad Rivai, ternyata melenggang mudah karena saingan sedikit.

Cita Imas Annisa, anak ketua tim pengelola beasiswa Bohari Yusuf, menerima beasiswa khusus internasional program pra-sarjana di Jerman, dengan mengambil jurusan psikologi. Realitas itu pun jadi perdebatan dalam press gathering yang digelar Dinas Pendidikan Kaltim, kemarin (14/5). Jurusan tersebut dinilai tak mendesak buat Kaltim. Tapi, pemohon justru dapat beasiswa. Makin jadi persoalan karena Cita Imas menerima ketika ayahnya, Bohari, menjabat ketua Tim Pengelola Beasiswa Kaltim Cemerlang.

Koordinator Sistem Tim Pengelola Beasiswa Kaltim Cemerlang, Mustaid, mengatakan program khusus internasional yang diikuti Cita Imas, tersedia empat kuota. Dalam penerimaan, ternyata hanya ada lima pendaftar. Satu orang yang gugur diketahui karena tak menyertakan berkas lengkap.

Selain Cita Imas yang mengambil jurusan psikologi, tiga penerima lain adalah mahasiswa jurusan system and network engineering, agrobisnis, dan ilmu arsitektur di negara berbeda. Dengan persaingan tak ketat, Cita Imas pun lolos menerima beasiswa.

Menurut Mustaid, syarat mendapat beasiswa khusus internasional cukup sulit. Pemohon mesti punya Letter of Acceptance dari universitas agar bisa dipertimbangkan. Dan, mendapatkan surat tersebut tak mudah. Selain melewati tes, calon mahasiswa luar negeri mesti membayar fee yang lumayan besar.

“Setahu saya memang beasiswa diperuntukkan jurusan yang berhubungan dengan Kaltim. Tapi, ada enggak yang daftar,” tutur dia.

Cita Imas akhirnya menerima beasiswa khusus luar negeri pada 2012 sebesar Rp 96 juta dan Rp 84 juta pada 2013. Cita mengikuti pendidikan pra-sarjana di Studienkolleg, Hochschule Anhalt, Jerman.

Sementara beasiswa yang didapatkan Akhmad Rivai --orang dekat Bohari sesama dosen di Universitas Mulawarman (Unmul)-- juga didapatkan dengan mudah. Dia hanya bersaing dengan tiga orang. Rivai pun terpilih dengan mudah karena saingannya tak melengkapi berkas persyaratan. “Dari pendaftar empat orang, hanya dia memenuhi kriteria karena yang lain tak lengkap berkasnya,” ungkap Mustaid.

Beasiswa Rivai sebesar Rp 240 juta pun terbilang wah karena njomplang dengan beasiswa lain. Soal ini, Mustaid menilai bahwa nominal tersebut jauh lebih kecil dibanding beasiswa strata tiga (S-3) ke Jepang dari DIKTI. Biaya semester di tempat Rivai menempuh pendidikan S-3 mencapai YJP 270 ribu per semester atau kisaran Rp 30 juta.

Selain itu, dari awal mahasiswa mesti membayar fee sebesar YJP 30 ribu atau sekitar Rp 3 juta. Beban bahkan makin bengkak karena kurs sedang tinggi kala itu, imbas gejolak ekonomi di Amerika Serikat. Selain itu, masih ada lagi biaya tes sebesar YJP 235 ribu yang mesti dipenuhi. Biaya kehidupan di Jepang pun terbilang tak murah. “Bayar asuransi tiap bulan juga ada,” ungkap Mustaid yang juga pernah kuliah S-3 di Jepang.

Sementara beasiswa Rivai yang pada 2014 ini distop, ditegaskan bukan karena kasus yang belakangan mengemuka. Jatah untuk Rivai memang sudah habis karena pemberian beasiswa hanya boleh tiga tahun untuk program doktor. Lewat dari itu, mahasiswa mesti memenuhi biaya sendiri.

Mustaid turut mengklarifikasi beasiswa yang mengalir buat Puji Setyowati, istri Wali Kota Samarinda Syaharie Jaang. Beasiswa yang diterima Puji merupakan program doktor untuk jurusan khusus. Beasiswa jenis ini tersedia 10 kuota, di antaranya doktor khusus ilmu kedokteran, lingkungan, kehutanan, pendidikan, pertanian, dan lainnya, sesuai visi-misi Pemprov Kaltim. Ditegaskan, keberhasilan Puji menerima beasiswa semata karena statusnya sebagai dosen, bukan istri wali kota.

Sebelumnya, Asisten Bidang Pengawasan Ombudsman RI Perwakilan Kaltim, Masdari, mengatakan temuan tersebut masuk kategori pelanggaran mala-administrasi karena penyalahgunaan wewenang dan konflik kepentingan. Bohari dianggap Ombudsman melakukan praktik KKN di lingkungan Tim Pengelola Beasiswa Kaltim Cemerlang.

Related Posts