Nabi Ayub, Manusia Pilihan Dengan Kesabaran Tiada Tandingan

shares |

Nabi Ayub, Manusia Pilihan Dengan Kesabaran Tiada Tandingan

Saat mendapat ujian dari sang pencipta, setiap orang diharuskan untuk tetap berlapang dada dan sabar. Memang, menjadi seseorang yang sabar tidaklah mudah. Tapi, dengan kesabaran yang tinggi seseorang tentunya bisa hidup dengan lebih mudah. Sang pencipta pun sangat sayang terhadap orang-orang yang sabar. Dan sang pencipta atau Allah, ia tak pernah menguji kesabaran hambanya di batas kemampuan hambanya tersebut.





"Allah tidak akan membebani seseorang melainkan apa yang terdaya olehnya, ia mendapat pahala kebajikan yang diusahakannya dan ia juga menanggung dosa kejahatan yang dilakukannya… (QS. Al-Baqarah, 286)."

Sementara itu, orang-orang yang senantiasa sabar dan lapang dada akan mendapatkan kebaikan serta kebahagiaan yang berlipat ganda setelah ia mampu melewati ujian yang sedang dihadapi dengan kesabaran. Dalam Al-Quran disebutkan, "Dan sungguh kamu berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, kehilangan jiwa (kematian) dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. (QS. Al Baqarah, 155).


Kalau berbicara mengenai kesabaran dan orang yang benar-benar sabar serta selalu tawakal kepada Allah, seorang yang begitu mulia derajatnya di hadapan Allah dan memiliki tingkat kesabaran paling tinggi adalah Nabi Ayub a.s. Meski beliau hidup dengan cobaan bertubi-tubi, beliau selalu tawakal dan taat beribadah kepada Allah SWT.

Dan berikut adalah sepenggal kisah mengenai perjalanan hidup Nabi Ayub a.s.

Yang Semula Kaya Raya, Mendadak Jatuh Miskin Lagi Banyak Cobaan


Nabi Ayub a.s merupakan putra dari Aish (Eswa) bin Ishaq bin Ibrahim a.s. Beliau adalah seseorang yang terlahir dari keluarga terhormat dan terpuji di mata Allah Swt. Beliau akhirnya juga tumbuh menjadi seseorang yang mulia, memiliki kedudukan tinggi di mata Allah dan memiliki kekayaan berlimpah. Meski hidup dengan harta yang berlimpah, Nabi Ayub selalu berbuat baik, ramah, tidak sombong, tidak angkuh, taat kepada Allah dan juga dermawan. Beliau selalu ingat Allah kapan pun dan dimana pun beliau berada.

Nabi Ayub juga sangat baik kepada orang-orang yang hidup menderita. Dengan harta kekayaan yang beliau miliki, beliau senantiasa bersedekah kepada orang-orang miskin, para janda dan juga anak-anak yang yatim piatu yang hidup serba kekurangan. Atas kebaikan yang ia lakukan, ia pun mendapat banyak pujian dan sanjungan. Tak hanya dari manusia yang pernah ditolongnya, ia juga mendapat pujian dan memiliki tempat istimewa di mata malaikat dan Allah sekalipun.

Sayang, kebaikan Nabi Ayub tidak disukai oleh iblis dan setan. Iblis dan setan selalu melakukan berbagai cara agar Nabi Ayub meninggalkan perintah Allah. Tapi, keimanan Nabi Ayub yang kuat tidak menggoyahkan hatinya untuk tetap beriman dan tawakal hanya pada Allah SWT. Iblis dan setan pun semakin marah serta cemburu lantas mengadukan hal ini kepada Allah SWT. Iblis mengatakan jika kebaikan yang dilakukan Nabi Ayub hanya sebatas karena ia ingin harta melimpah dari Allah saja.

Mendengar pengaduan iblis, Allah pun mengizinkan iblis untuk menggoda Nabi Ayub hingga beliau lalai dalam beribadah. Allah pun menguji keimanan dan kesabaran Nabi Ayub untuk membuktikan bahwa ia benar-benar seorang yang taat lagi tawakal hanya padaNya. Perlahan tapi pasti, harta benda Nabi Ayub habis karena ia bangkrut. Rumahnya pun roboh dan menimpa anak-anaknya hingga membuat anak-anak tersebut meninggal dunia.

Meski cobaan datang bertubi-tubi dan ia kehilangan semua yang ia miliki, Nabi Ayub tetap sabar dan bertawakal. Suatu hari, iblis datang menemui Nabi Ayub dengan menyamar menjadi seorang pria dan mengatakan bahwa tidak seharusnya ia beribadah taat jika Tuhan yang ia sembah tidak menolongnya saat ia kesusahan dan ditimpa bencana. Mendengar apa yang disampaikan iblis ini, Nabi Ayub hanya tersenyum dan ia justru semakin menjadi pribadi yang sabar, bertawakal serta beriman. Nabi Ayub mengatakan,



"Semua yang aku miliki adalah pinjaman dari Allah. Kini sudah tiba saatnya bagi Allah mengambil itu semua. Hanya Allah yang berkuasa atas segala-galanya."



Atas pengakuan Nabi Ayub ini, iblis pun semakin marah dan ia kembali meminta Allah untuk mengujinya dengan ujian yang lebih berat. Dan benar, ujian yang lebih berat pun datang. Namun, Nabi Ayub yang sangat sabar ternyata benar-benar manusia mulia pilihan Allah dengan tingkat kesabaran paling tinggi.

Nabi Ayub Sakit Parah, Cobaan Bertubi-Tubi Kembali Menerpa

Tingkat kesabaran Nabi Ayub kembali diuji. Tak hanya harta benda dan anak yang hilang darinya. Kesehatannya pun semakin hari semakin melemah. Beliau lantas sakit parah selama kurang lebih 18 tahun. Karena sakit yang ia derita, beliau bahkan hanya bisa terbaring lemas di tempat tidur bertahun-tahun lamanya. Beliau juga diasingkan oleh masyarakat tempatnya tinggal dan hanya ditemani oleh sang istri yang diketahui bernama Rahmah.

Meski hidup sangat menderita dan cobaan bertubi-tubi beliau rasakan, beliau tetap sabar, tawakal dan beriman hanya pada Allah semata. Melihat kesabaran Nabi Ayub yang luar biasa, iblis pun kembali murka dan ia menghasut istri Nabi Ayub yang setia menemaninya. Suatu hari, sang istri yang mulai lelah dengan kehidupan yang mereka jalani, ia melontarkan kata-kata pedas nan menyakiti hati Nabi Ayub.

Mendengar perkataan sang istri, Nabi Ayub sempat marah dan bersumpah akan memukul sang istri sebanyak 100 kali kalau saja suatu saat nanti beliau sembuh. Nabi Ayub pun terus berdoa sepanjang waktu agar ia diberikan kesembuhan oleh Allah. Dan benar, suatu hari Nabi Ayub bermimpi untuk menghentakkan kakinya di tanah agar muncul mata air. Allah menyuruh Nabi Ayub memakai air dari mata air tersebut untuk mandi dan minum.

Setelah menghentakkan kaki dan muncul mata air, Nabi Ayub mandi dan minum air dari mata air tersebut. Bersyukur, beliau pun akhirnya sembuh dari sakitnya. Ia juga menjadi lebih sehat dan bugar dari sebelumnya. Atas kesembuhan Nabi Ayub, sang istri pun kembali kepada Nabi Ayub. Nabi Ayub pun kembali teringat akan sumpahnya yang hendak memukul sang istri sebanyak 100 kali. Namun, Nabi Ayub adalah seorang mulia yang begitu lembut hatinya dan sabar. Beliau tak sampai hati jika harus menyakiti tubuh istrinya.

Nabi Ayub berdoa kepada Allah dan mengatakan bahwa ia tidak bisa menepati sumpahnya. Setelah kejadian ini, turunlah ayat dari Allah yang menyuruh Nabi Ayub untuk memukul istrinya dengan 100 helai rumput yang diikat menjadi satu. Atas kebaikan, kesabaran dan keteguhan iman Nabi Ayub, kisahnya pun menjadi salah satu kisah yang ada di dalam Al-Quran.




Dalam surat Shaad ayat 41 - 44 diceritakan, "Dan ingatlah aku diganggu setan dengan kepayahan dan siksaan. (Allah berfirman), "Hantamkanlah kakimu, inilah air sejuk untuk mandi dan minum. Dan kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai pikiran. Dan ambillah tanganmu seikat (rumput), setelah itu pukullah dengan ikatan rumput itu kepada istrimu agar kamu tidak melanggar sumpah. Sesungguhnya kami dapati dia (Ayub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya, dia amat taat kepada Tuhannya. (QS. Shaad, 41-44)."



Ladies, itulah sepenggal kisah mengenai seseorang yang memiliki tingkat kesabaran paling tinggi. Beliau adalah Nabi Ayub a.s. Semoga, kisah ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi kita semua dan kita bisa menjadi pribadi yang lebih sabar lagi setelah ini. Buat kamu yang sedang menjalankan ibadah puasa, selamat menjalankan ibadah puasa.

Related Posts